Dari PLTU ke Energi Bersih, PLN NP Bangun Ekosistem Hidrogen di Rembang
REMBANG, 2 JANUARI 2026 – PT PLN Nusantara Power (PLN NP) meresmikan Hydrogen Refueling Station (HRS) Merah Putih 2.0 di Unit Pembangkitan Rembang, Jawa Tengah. Pembangunan HRS ini sebagai langkah konkret memperkuat ekosistem hidrogen nasional dan mendukung transisi energi menuju Net Zero Emission (NZE) 2060.
HRS Merah Putih 2.0 menjadi generasi kedua fasilitas hidrogen karya anak bangsa, sekaligus mempertegas posisi PLN NP sebagai pionir hidrogen hijau di Indonesia.
Direktur Utama PLN Nusantara Power Ruly Firmansyah menegaskan, inovasi teknologi menjadi kunci percepatan dekarbonisasi sektor ketenagalistrikan nasional.
“Kami memiliki berbagai inovasi yang diterapkan di unit pembangkit. Tujuannya jelas, mempercepat tercapainya Net Zero Emission pada 2060,” ujar Ruly.
HRS Merah Putih 2.0 merupakan hasil pengembangan teknologi berbasis riset internal PLN Nusantara Power bersama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dengan tingkat kandungan dalam negeri (TKDN) minimal 60 persen. Fasilitas ini dikembangkan untuk mengoptimalkan potensi excess hydrogen dari operasional PLTU Rembang.
PLTU Rembang memiliki kapasitas produksi hidrogen sekitar 8,94 ton per tahun untuk pendingin generator. Namun, kebutuhan operasional hanya menyerap sebagian kecil, sehingga terdapat potensi excess hydrogen sekitar 7,5 ton per tahun yang sebelumnya belum dimanfaatkan optimal.
Melalui HRS Merah Putih 2.0, potensi tersebut kini dikonversi menjadi fondasi awal pengembangan ekosistem hidrogen di lingkungan pembangkit.
“Penerapan HRS Merah Putih 2.0 di Rembang diharapkan mampu mengoptimalkan excess hydrogen, memperkuat kapasitas teknologi nasional melalui riset mandiri, serta menciptakan ekosistem hidrogen yang dapat direplikasi di unit pembangkit lain,” tambah Ruly.
Ke depan, PLN Nusantara Power berencana mengembangkan jaringan HRS secara bertahap di sejumlah unit pembangkit di Pulau Jawa, antara lain Indramayu, Tanjung Awar-awar, Gresik, Paiton, Muara Tawar, Pacitan, serta pembaruan HRS 1.0 di Muara Karang.
Langkah ini sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam mendorong pemanfaatan energi baru dan terbarukan serta pengurangan emisi karbon. Pengembangan HRS diharapkan tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional pembangkit, tetapi juga membuka peluang pemanfaatan hidrogen sebagai sumber energi bersih masa depan.