Jagal Tolak Pindah dari RPH Pegirian, Pemkot Surabaya Tegaskan Relokasi Tetap Jalan

photo

SURABAYA, 13 JANUARI 2026 – Penolakan sejumlah jagal terhadap rencana pemindahan Rumah Potong Hewan (RPH) Pegirian ke RPH Osowilangun mendapat respons langsung dari Pemerintah Kota Surabaya. Pemkot menegaskan relokasi tetap akan dilakukan meski aspirasi penolakan telah disampaikan secara resmi oleh para jagal.

Aspirasi tersebut diterima oleh Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kota Surabaya, M. Fikser, bersama Direktur Utama PT RPH Surabaya Perseroda, Fajar Arifianto Isnugroho, saat audiensi di Balai Kota Surabaya, Senin (12/1/2026).

Fikser menyampaikan, sebanyak 10 perwakilan jagal yang menggelar aksi demonstrasi menyatakan keberatan untuk pindah dari RPH Pegirian ke RPH Osowilangun.

Meski demikian, ia menegaskan rencana relokasi tersebut bukan kebijakan mendadak, melainkan telah disosialisasikan sejak 2016 dan menjadi bagian dari rencana pembangunan Kota Surabaya, khususnya penataan kawasan wisata religi Ampel.

“Mereka meminta untuk tidak dipindah, tetapi kami jelaskan bahwa program ini sudah direncanakan sejak 2016 dan masuk dalam rencana pembangunan kota, termasuk penataan kawasan religi,” tegas Fikser.

Meski menghadapi penolakan, Pemkot Surabaya menegaskan tetap membuka ruang dialog dan pendekatan persuasif untuk mencari solusi terbaik.

Dalam pertemuan tersebut, pemkot juga menyampaikan kesiapan teknis pemindahan, termasuk penyediaan kendaraan pengangkut daging dan dukungan operasional lainnya bagi para jagal.

Selain itu, pemerintah kota akan melakukan penyesuaian jam operasional pemotongan hewan di RPH Osowilangun, dari semula pukul 00.00 WIB menjadi 22.00 WIB. Perubahan ini diharapkan mempercepat proses pemotongan dan distribusi daging ke Pasar Arimbi, sentra perdagangan daging di Surabaya.

Pemkot juga memastikan aspek keamanan dan kenyamanan para jagal tetap terjaga. Nantinya, setiap jagal akan dibekali tanda pengenal dan surat resmi, serta disiapkan loker penyimpanan alat kerja untuk memastikan aktivitas berjalan aman dan tertib.

“Secara teknis sudah kami bahas, termasuk identitas jagal dan penyimpanan alat kerja, agar mereka merasa aman dan nyaman saat beroperasi di Osowilangun,” jelas Fikser.

Fikser menegaskan kembali bahwa relokasi pemotongan sapi dari RPH Pegirian ke RPH Osowilangun tetap akan dilakukan setelah Idulfitri 2026. Hingga saat itu, pemkot akan terus melakukan sosialisasi dan pendekatan intensif kepada para jagal.

“Yang dipindah adalah aktivitas pemotongan sapinya. Pasar Daging Arimbi tetap berada di Jalan Arimbi, tidak ikut pindah,” tandasnya.

Sementara itu, Dirut PT RPH Surabaya Perseroda Fajar Arifianto Isnugroho memastikan RPH Osowilangun telah siap secara fungsi dan fasilitas. Selama masa transisi Januari hingga Maret 2026, operasional pemotongan akan dilakukan secara paralel di dua lokasi.

“Kami beri waktu sampai akhir Maret. Selama Januari, Februari, dan Maret, dua RPH berjalan bersamaan untuk memastikan kesiapan fasilitas,” ujar Fajar.

Menurutnya, relokasi juga bertujuan memberikan fasilitas yang lebih modern dan representatif bagi para jagal. RPH Osowilangun dibangun dengan teknologi dan IPAL yang lebih optimal, menggantikan RPH Pegirian yang telah beroperasi sejak 1927 dan dinilai sudah tidak maksimal.

“Fungsinya tetap sama seperti Pegirian, hanya tempatnya yang lebih modern dan layak. Ini bentuk perhatian pemerintah kota agar aktivitas pemotongan berjalan lebih baik,” pungkas Fajar.

Foto : Ist