Masuk Blue Book Bappenas, Empat Proyek PGE Bidik Pembiayaan USD 613 Juta
JAKARTA, 2 JANUARI 2026 – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (IDX: PGEO) kian memperkuat perannya dalam transisi energi nasional. Empat proyek strategis panas bumi PGE resmi masuk Blue Book Bappenas 2025–2029, membuka peluang pembiayaan konsesional luar negeri dengan nilai indikatif mencapai USD 613 juta.
Penetapan tersebut merupakan hasil pengajuan PGE melalui PT Pertamina (Persero) dan menjadi langkah penting dalam mendorong pengembangan panas bumi hingga 3 gigawatt (GW) sebagai tulang punggung energi bersih nasional.
Empat proyek yang masuk dalam Blue Book meliputi Lumut Balai Unit 3, Lumut Balai Unit 4, Gunung Tiga/Ulubelu Extension I, serta Lahendong Unit 7–8 & Binary. Total nilai investasi keempat proyek ini mencapai lebih dari USD 1,09 miliar dan diproyeksikan menambah 215 MW kapasitas listrik rendah emisi yang akan beroperasi bertahap pada 2029–2032.
Proyek-proyek tersebut berpeluang memperoleh pendanaan melalui skema indicative concessional loan dari lembaga multilateral seperti World Bank, Asian Development Bank (ADB), JBIC, hingga JICA.
Direktur Eksplorasi & Pengembangan PGE Edwil Suzandi menyatakan, dukungan pembiayaan ini menjadi langkah konkret dalam mempercepat transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
“Pengembangan proyek panas bumi ini tidak hanya meningkatkan bauran energi terbarukan, tetapi juga menciptakan multiplier effect bagi masyarakat sekitar, mulai dari lapangan kerja hingga pertumbuhan ekonomi lokal. PGE berkomitmen menghadirkan listrik bersih yang andal dan berkelanjutan untuk mendukung target Net Zero Emission 2060,” ujar Edwil.
Secara rinci, Lumut Balai Unit 3 (capex USD 305 juta) dan Lumut Balai Unit 4 (capex USD 290 juta) akan memperkuat klaster panas bumi PGE di Sumatra Selatan.
Gunung Tiga/Ulubelu Extension I (capex USD 227 juta) di Lampung mengandalkan teknologi two-phase binary untuk efisiensi yang lebih tinggi.
Sementara Lahendong Unit 7–8 & Binary (capex USD 274 juta) memperluas pengembangan panas bumi di Sulawesi Utara yang dikenal memiliki potensi geothermal besar.
Dari sisi keekonomian, proyek-proyek ini juga didukung skema Subsidiary Loan Agreement (SLA) yang menawarkan pembiayaan jangka panjang berbiaya rendah. Skema ini diperkirakan dapat meningkatkan Internal Rate of Return (IRR) proyek sebesar 1–3 persen, sehingga memperkuat kelayakan investasi jangka panjang.
Selanjutnya, PGE akan memasuki tahap negosiasi dengan lembaga multilateral untuk menentukan struktur pendanaan, tingkat bunga, tenor, serta pemenuhan aspek teknis dan lingkungan. Bersamaan dengan itu, PGE juga menyiapkan readiness criteria sebagai prasyarat menuju Green Book, yang akan membuka akses penuh terhadap pembiayaan luar negeri.
Melalui langkah ini, PGE menegaskan komitmennya menjadikan Indonesia sebagai salah satu kekuatan utama energi hijau dunia, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional berbasis energi bersih.