Mendikdasmen : 3.274 Satuan Pendidikan Terdampak Banjir, 6.431 Ruang Kelas Rusak
JAKARTA, 16 DESEMBER 2025 – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menyampaikan bahwa total 3.274 satuan pendidikan terdampak banjir di wilayah Sumatra Utara, Sumatra Barat, dan Aceh.
Rinciannya meliputi 767 PAUD, 1.343 SD, 621 SMP, 268 SMA, 136 SMK, 23 PKBM, 30 Sekolah Luar Biasa, serta 86 Lembaga Kursus dan Pelatihan. Hingga kini, tingkat kerusakan masih dalam proses pendataan.
Selain itu, tercatat 6.431 ruang kelas mengalami kerusakan, disertai 3.489 unit sarana prasarana pendidikan terdampak, termasuk laboratorium, perpustakaan, UKS, tempat ibadah, serta perangkat interactive flat panel (IFP). Kerusakan juga terjadi pada 3.420 unit toilet sekolah.
Untuk penanganan awal, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah menyalurkan bantuan barang berupa 148 tenda ruang kelas darurat, 15.000 school kit, 7.500 bingkisan anak, 2.000 pasang sepatu, 700 family kit, serta 65.000 buku teks dan nonteks.
“Dari sisi anggaran, pemerintah mengalokasikan bantuan dana sebesar Rp21,1 miliar dari anggaran existing, ditambah Rp18,53 miliar dari anggaran revisi,” kata Abdul Mu’ti.
Selain itu, disiapkan Rp35 miliar untuk tunjangan khusus guru di daerah bencana. Sebanyak 16.500 guru tercatat menerima bantuan, masing-masing Rp2 juta per orang, dengan anggaran masih dalam proses revisi tahun 2025.
Terkait kebijakan pembelajaran, Abdul Mu’ti juga memaparkan skema penyesuaian kurikulum bagi sekolah terdampak bencana. Pada fase tanggap darurat 0–3 bulan, kurikulum disederhanakan menjadi kompetensi esensial yang mencakup literasi, numerasi dasar, kesehatan dan keselamatan diri, dukungan psikososial, serta edukasi mitigasi bencana.
Selanjutnya, pada fase pemulihan dini 3–12 bulan, diterapkan kurikulum adaptif berbasis krisis, program pemulihan pembelajaran, pembelajaran fleksibel dan diferensiasi, serta sistem asesmen transisi berbasis portofolio.
Sementara pada fase pemulihan lanjutan 1–3 tahun, pendidikan kebencanaan akan diintegrasikan secara permanen, disertai penguatan kualitas pembelajaran, pembelajaran inklusif berbasis ketahanan, serta sistem monitoring dan evaluasi pendidikan darurat.
Baca Berita Menarik Lainnya di Google News