Studi Global: Laut Serap Panas Tertinggi di Tahun 2025
Jakarta, Sabtu 10 Januari 2026- Tahun 2025 menjadi periode dimana panas lautan dunia capai rekor tertinggi dibandingkan sebelumnya, ungkap studi yang melibatkan lebih dari 50 ilmuwan dari 31 lembaga penelitian di dunia
Melansir Antara, hasil studi yang diterbitkan dalam jurnal Advances in Atmospheric Sciences pada hari Jumat (9/1) tersebut menyatakan jika peningkatan panas pada tahun 2025 mencapai 23 Zetta Joule Energi, sebuah sebuah temuan yang mengejutkan karena setara dengan 37 tahun konsumsi energi global pada level 2023
Angka tersebut diperoleh setelah para peneliti mengintegrasikan data dari sejumlah pusat penelitian internasional terkemuka dan kelompok penelitian independen di Asia, Eropa, dan Amerika, dan disimpulkan bahwa kandungan panas di lapisan 2.000 meter teratas di lautan tahun 2025 mencapai level tertinggi yang pernah tercatat, menandai tren kenaikan yang jelas dan berkelanjutan
Hasil studi juga mengungkap jika pemanasan laut di dunia tidak terjadi secara merata, yang mana 16% wilayah lautan mencapai suhu tertinggi sepanjang sejarah, sedangkan 33% lainnya masuk dalam tiga tahun terpanas dalam catatan sejarahnya
Sementara Samudra Atlantik Tropis dan Selatan, Samudra Pasifik Utara, dan Samudra Selatan dan beberapa wilayah lautan lainnya mengalami percepatan pemanasan
Rata-rata suhu permukaan laut global pada tahun 2025 menjadi rekor terpanas ketiga, dengan tetap 0,5 derajat celcius di atas baseline terkini dan sedikit di bawah puncak terpanas yang tercatat tahun 2023 dan 2024
Para peneliti mengingatkan dampak serius dari semakin tingginya suhu permukaan laut, yaitu peningkatan evaporasi dan curah hujan yang lebih lebat, yang menjadi kunci dalam peristiwa cuaca ekstrem tahun 2025 seperi bencana banjir bandang di Asia Tenggara dan Meksiko, serta kekeringan di Timur Tengah
Pemanasan laut yang berlangsung terus menerus memiliki konsekuensi serius berupa kenaikan permukaan laut melalui ekspansi termal, gelombang panas laut yang semakin parah, peningkatan panas dan kelembapan atmosfer, yang menyebabkan badai dan fenomena cuaca ekstrem lainnya
Mereka juga menekankan jika bumi terus menerus mengakumulasi panas, maka rekor panas lautan akan terus berlanjut